Monday, June 24, 2013

Harga Minyak Mentah WTI Ditutup Melonjak 1.6% Akibat Gangguan Pasokan dari Kanada

Pada perdagangan elektronik di Asia kemarin harga minyak mentah tampak mengalami pergerakan yang masih tertahan di sekitar level paling rendah dalam lebih dari dua minggu belakangan. Harga komoditas ini tertekan di tengah spekulasi bahwa pemulihan ekonomi China akan terancam oleh pengetatan likuiditas yang diberlakukan pihak berwenang di negara ini.

Harga minyak mentah hari ini mengalami pergerakan yang fluktuatif dan bergerak di kisaran positif dan negatif setelah minggu lalu membukukan penurunan mingguan sebesar 4.3 persen. Isu mengenai pengetatan likuiditas di China masih menjadi fokus utama saat ini.

Harga minyak mentah berjangka jenis WTI untuk kontrak pengiriman bulan Agustus mengalami penurunan sebesar 21 sen hari ini dan diperdagangkan pada posisi 93.48 dollar per barel. Pada akhir pekan lalu harga kontrak ini melemah sebesar 1.45 dollar atau 1.5 persen dan ditutup pada posisi 93.69 dollar yang merupakan harga penutupan paling rendah sejak tanggal 4 Juni lalu.

Sementara itu harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman bulan Agustus juga tampak mengalami pelemahan hari ini. Harga minyak mentah di bursa London tersebut melemah 40 sen dan ditransaksikan pada posisi 100.51 dollar per barel.

Namun pada akhir perdagangan di bursa Nymex dini hari tadi harga minyak mentah mengalami kenaikan untuk pertama kalinya dalam empat hari belakangan (25/06). Kenaikan anomali pada harga komoditas ini terjadi setelah adanya kabar penutupan tiga pipa minyak di Alberta, Kanda akibat kebanjiran.

Harga minyak mentah berjangka jenis WTI mengalami kenaikan sebesar 1.6 persen. Kenaikan harian tersebut merupakan yang paling besar sejak tanggal 3 Juni lalu. Situasi yang terjadi di Alberta tampaknya lebih buruk dari yang diproyeksi sebelumnya. Terbatasnya pasokan dari Kanada akan berdampak kepada naiknya permintaan minyak dari AS.

Harga minyak mentah berjangka jenis WTI untuk kontrak bulan Agustus mengalami peningkatan sebesar 1.49 dollar dan ditutup pada posisi 95.18 dollar per barel. Sebelumnya harga minyak mentah sempat mengalami penurunan sebesar 1.02 dollar dan mencapai level 92.67 dollar per barel yang merupakan posisi paling rendah sejak tanggal 4 Juni.

Penutupan pipa minyak di Kanada ini diperkirakan akan mengakibatkan turunnya pasokan minyak mentah di AS.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga komoditas ini masih akan terangkat akibat kekhawatiran mengenai pengetatan pasokan. Untuk sementara harga minyak mentah akan mengalami pergerakan pada kisaran 92.00 – 98.00 dollar.

Harga Minyak Mentah WTI dan Brent Tergerus Akibat Ancaman Ekonomi China

Perdagangan minyak mentah pada sore hari ini memang masih cenderung melemah. Minyak mentah tersebut kembali mengalami tekanan yang diakibatkan oleh adanya sebuah kekhawatiran pasar mengenai prospek ekonomi China dimana hari ini Goldman Sachs menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi China untuk tahun ini akan mengalami penurunan ke level 7,4%. Level tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi di awal tahun yang sebesar 7,8%.

Disaat yang bersamaan, pemerintah Amerika Serikat yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri, John Kerry, menyatakan akan menyiapkan pasukan untuk menyelamatkan kondisi keamanan di Suriah. Program tersebut sebelumnya telah dicanangkan oleh Presiden Barrack Obama yang menyatakan prihatin kepada berlarut-larutnya perang sipil di negara tersebut.

Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 48 sen menjadi 93,21 dollar per barel. Sedangkan minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 80 sen menjadi 100,11 dollar per barel.

Dan pada perdagangan elektronik di Asia hari ini harga minyak mentah tampak mengalami pergerakan yang masih tertahan di sekitar level paling rendah dalam lebih dari dua minggu belakangan (24/06). Harga komoditas ini tertekan di tengah spekulasi bahwa pemulihan ekonomi China akan terancam oleh pengetatan likuiditas yang diberlakukan pihak berwenang di negara ini.

Harga minyak mentah hari ini mengalami pergerakan yang fluktuatif dan bergerak di kisaran positif dan negatif setelah minggu lalu membukukan penurunan mingguan sebesar 4.3 persen. Isu mengenai pengetatan likuiditas di China masih menjadi fokus utama saat ini.

Harga minyak mentah berjangka jenis WTI untuk kontrak pengiriman bulan Agustus mengalami penurunan sebesar 21 sen hari ini dan diperdagangkan pada posisi 93.48 dollar per barel. Pada akhir pekan lalu harga kontrak ini melemah sebesar 1.45 dollar atau 1.5 persen dan ditutup pada posisi 93.69 dollar yang merupakan harga penutupan paling rendah sejak tanggal 4 Juni lalu.

Sementara itu harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman bulan Agustus juga tampak mengalami pelemahan hari ini. Harga minyak mentah di bursa London tersebut melemah 40 sen dan ditransaksikan pada posisi 100.51 dollar per barel.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah pada perdagangan hari ini akan cenderung mengalami penurunan terbatas. Harga minyak mentah berpotensi untuk kembali mengetes level support di 92 dollar. Sementara itu level resistance akan ditemui pada posisi 96 dollar.

Harga Minyak Melemah Lagi, GDP China Akan Merosot Ke Level 7,4%

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya jika beberapa hari yang lalu kondisi pelemahan masih terjadi pada harga minyak mentah setelah pergerakan nilai tukar dollar terhadap mata uang mayoritas masih mengalami kenaikan yang lumayan tinggi. Indeks dollar terhadap 6 mata uang mayoritas mengalami kenaikan sebesar 0,7% menjadi 82,518. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 6 Juni lalu. Seiring dengan kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu, investor kembali memburu dollar sebagai mata uang yang safe haven.

Dan beberapa hari yang lalu pemerintah China juga melaporkan bahwa tingkat konsumsi minyak harian pada sektor industry mengalami penurunan yang cukup tinggi menjadi sebesar 42600 barel per hari atau merupakan jumlah konsumsi harian terendah sejak bulan Oktober tahun lalu.

Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 2% menjadi 93,23 dollar per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 1,9% menjadi 100,21 dollar per barel.

Dan nampaknya hal tersebut masih berlanjut karena harga minyak mentah untuk perdagangan sore hari ini (24/6) kembali melanjutkan pelemahan. Komoditi energi tersebut kembali mengalami tekanan yang diakibatkan oleh adanya sebuah kekhawatiran pasar mengenai prospek ekonomi China dimana hari ini Goldman Sachs menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi China untuk tahun ini akan mengalami penurunan ke level 7,4%. Level tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi di awal tahun yang sebesar 7,8%.

Disaat yang bersamaan, pemerintah Amerika Serikat yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri, John Kerry, menyatakan akan menyiapkan pasukan untuk menyelamatkan kondisi keamanan di Suriah. Program tersebut sebelumnya telah dicanangkan oleh Presiden Barrack Obama yang menyatakan prihatin kepada berlarut-larutnya perang sipil di negara tersebut.

Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 48 sen menjadi 93,21 dollar per barel. Sedangkan minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 80 sen menjadi 100,11 dollar per barel.

Menurut analisa dari Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting, melemahnya pergerakan harga minyak saat ini akan berlanjut sampai malam nanti dimana data-data ekonomi yang akan dirilis hari ini cukup sedikit dan juga pengaruh pelemahan bursa saham global yang kembali bergerak bearish.

Kenaikan Indeks Dollar Kembali Tekan Harga Minyak Mentah

Sebelumnya pergerakan harga minyak mentah untuk perdagangan kemarin tercatat mengalami penurunan yang signifikan. Sama seperti kondisi sebelumnya, pergerakan minyak mentah cukup tertekan akibat pernyataan dari Fed yang memberikan kepastian bahwa nominal kebijakan stimulus ekonomi yang rencananya akan membutuhkan biaya sebesar 85 miliar dollar akan dikurangi jumlahnya.

Selain itu, sentimen negatif juga diperoleh dari laporan naiknya jumlah persediaan BBM di Amerika Serikat untuk pekan lalu yang naik sebesar 183 ribu barel dan turunnya data PMI manufaktur China untuk bulan Mei lalu sebesar 0,9 poin menjadi 48,3 poin. Meleset dari prediksi sebelumnya yang diperkirakan akan naik 0,2 poin.

Dan kemarin harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 2,24 dollar menjadi 96 dollar per barel. Sedangkan minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 2,29% menjadi 103,83 dollar per barel.

Sementara itu untuk hari ini kondisi pelemahan masih terjadi pada harga minyak mentah setelah pergerakan nilai tukar dollar terhadap mata uang mayoritas masih mengalami kenaikan yang lumayan tinggi. Indeks dollar terhadap 6 mata uang mayoritas mengalami kenaikan sebesar 0,7% menjadi 82,518. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 6 Juni lalu. Seiring dengan kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu, investor kembali memburu dollar sebagai mata uang yang safe haven.

Dan hari ini pemerintah China juga melaporkan bahwa tingkat konsumsi minyak harian pada sektor industry mengalami penurunan yang cukup tinggi menjadi sebesar 42600 barel per hari atau merupakan jumlah konsumsi harian terendah sejak bulan Oktober tahun lalu.

Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 2% menjadi 93,23 dollar per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 1,9% menjadi 100,21 dollar per barel.

Menurut analisa dari Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting, pergerakan harga minyak diprediksi akan masih berpeluang mengalami penurunan di awal pekan depan dengan level support sebesar 91,7 dollar per barel dan level resistant sebesar 95,83 dollar per barel.

Friday, June 21, 2013

Harga Minyak Berjangka Terpukul Akibat Sentimen Negatif Global

Pada akhir perdagangan di bursa Nymex dini hari tadi harga minyak mentah mengalami penurunan yang signifikan (22/06). Harga komoditas ini melempem di tengah kekhawatiran bahwa kekhawatiran pasar tentang rencana Federal Reserve mengurangi stimulusnya dan tanda-tanda perlambatan pertumbuhan di China. Penurunan harga komoditas minyak mentah ini terjadi untuk dua hari berturut-turut.  Pukulan global terhadap harga minyak ini tentu akan meningkatkan harga minyak itu sendiri.
Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) turun 1,45 dolar AS pada hari pertama perdagangan kontrak Agustus, ditutup pada 93,69 dolar AS per barel.
Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus melemah 1,24 dolar AS ditutup pada 100,91 dolar AS per barel di perdagangan London.
Kedua kontrak mengalami kerugian terbesar sejak November pada hari Kamis lalu. Penurunan masih terjadi karena pasar sedang dilanda tekanan jual parah sebagai reaksi terhadap pernyataan Ketua Federal Reserve Ben Bernanke yang pada Rabu malam lalu mengisyaratkan bahwa Fed dapat mulai mengurangi stimulus pelonggaran kuantitatif (QE) pada akhir tahun.
Dalam dua hari terakhir, WTI, yang telah melonjak tinggi sejak awal Juni, jatuh lebih dari 4,50 dolar AS.
Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah masih akan berada dalam pola melemah untuk sementara. Kondisi ekonomi global yang kembali bergejolak akibat kemungkinan dikuranginya stimulus membuat harga komoditas ini cenderung melemah.