Wednesday, October 23, 2013

Akibat Akselerasi Pertumbuhan PDB China, Harga Minyak Mentah Rebound

Pada perdagangan elektronik di Asia kemarin harga minyak mentah jenis WTI terpantau mengalami pergerakan yang sideways dan terbatas (17/10). Harga minyak mentah bergerak tertahan setelah pada akhir perdagangan dini hari tadi melonjak terbesar dalam satu minggu belakangan setelah para petinggi di AS mencapai kesepakatan untuk menaikkan batas utang dan menghindari gagal bayar.

Pada sesi perdagangan kemarin harga minyak mentah membukukan kenaikan harian sebesar 1.1 persen, terbesar sejak tanggal 10 Oktober lalu. Para investor kembali memburu asset dengan imbal hasil tinggi setelah ada kabar bahwa para petinggi Senat di Amerika Serikat sudah menandatangani kesepakatan untuk menghindari kebangkrutan. Kesepakatan tersebut berisi penetapan kenaikan batas atas utang di negara tersebut. Kongres AS juga sudah melakukan pengambilan suara dan memutuskan untuk meloloskan kenaikan batas utang tersebut.

Pergerakan harga minyak mentah hari ini terbatas di tengah kabar bahwa pasokan minyak mentah di AS pekan lalu mengalami kenaikan. Tercatat pasokan minyak mentah mengalami kenaikan sebesar 5.94 juta barel.

Sementara itu berita minyak pada perdagangan elektronik di Asia hari ini harga minyak mentah mengalami kenaikan setelah sempat tergerus ke posisi paling rendah dalam tiga bulan belakangan pekan lalu (18/10). Harga komoditas ini rebound dan menghapuskan sebagian penurunannya minggu ini. Data ekonomi dari China memberikan sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi masih cukup solid sehingga harapan terjadinya kenaikan permintaan dari negara ini juga masih cukup besar.

PDB kuartal ketiga China mengalami kenaikan sebesar 7.8 persen di kuartal Juli – September dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini sesuai dengan ekspektasi para analis.

Sementara itu data terpisah menunjukkan bahwa produksi sektor industri mengalami kenaikan sebesar 10.2 persen di bulan September. Ini juga sesuai dengan ekspektasi. Sementara itu penjualan eceran mengalami kenaikan  sebesar 13.3 persen, agak lebih kecil dibandingkan ekspektasi kenaikan sebesar 13.6 persen.

Seiring dengan solidnya data pertumbuhan ekonomi China tersebut harga minyak mentah berjangka WTI untuk kontrak November tampak mengalami kenaikan sebesar 21 sen dan diperdagangkan pada posisi 100.88 dollar per barel. Kemarin harga minyak mentah ini mengalami penurunan sebesar 1.62 dollar atau 1.6 persen dan ditutup pada posisi 100.67 dollar per barel yang merupakan harga penutupan paling rendah sejak tanggal 2 Juli lalu.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah berjangka jenis WTI masih berpotensi untuk melanjutkan kenaikan. Hari ini diperkirakan harga komoditas ini akan mengalami pergerakan pada kisaran 100.00 – 102.00 dollar per barel.

Thursday, July 11, 2013

Setelah Melejit ke 15 Bulan Tertinggi, Harga Minyak Mentah WTI Bergerak Nyaris Flat di Sesi Asia

Harga Minyak Mentah WTI Bergerak Nyaris Flat di Sesi Asia Setelah Melejit ke 15 Bulan TertinggiPada perdagangan elektronik di Asia kemarin harga minyak mentah WTI kembali melanjutkan kenaikan dan lagi-lagi mencapai level paling tinggi dalam 14 bulan belakangan (10/07). Harga minyak mentah WTI didukung oleh data dari American Petroleum Institute yang menunjukkan bahwa pasokan minyak mentah di Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar nyaris 9 juta barel minggu lalu.

Pergerakan harga minyak mentah Brent di London tampak mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, seiring dengan kondisi data China yang memburuk. Pengetatan likuiditas di China telah menimbulkan kepanikan psikologis di pasar. Para investor saat ini sedang mengamati kondisi ekonomi China yang kurang mumpuni. Data terbaru menunjukkan bahwa ekspor dan impor dari negara ini mengalami penurunan di bulan Juni. Ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi di China memang masih lesu.

Sementara pada perdagangan elektronik di Asia hari ini harga minyak mentah jenis WTI diperdagangkan di kisaran tertinggi dalam 15 bulan belakangan setelah adanya laporan bahwa pasokan minyak mentah AS turun untuk dua minggu berturut-turut (11/07). Premi harga Brent terhadap WTI mengecil hingga mencapai level terendah sejak bulan November tahun 2010.

Harga minyak mentah mengalami pergerakan yang volatil pada sesi perdagangan hari ini. Harga komoditas ini fluktuatif sempat mengalami kenaikan tajam sebesar 2.9 persen pada perdagangan kemarin. Kenaikan harian ini merupakan yang terbesar dalam dua bulan belakangan.

Pasokan minyak mentah di Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 9.87 juta barel minggu lalu, menurut data yang dirilis oleh Energy Infromation Administration. Penurunan ini jauh melebihi estimasi yang hanya sebesar 3.2 juta barel.

Hari ini harga minyak mentah jenis WTI untuk kontrak pengiriman bulan Agustus turun tipis saja sebesar 5 sen dan diperdagangkan pada posisi 106.47 dollar per barel. Pada perdagangan kemarin harga minyak mentah ini sempat menguat ke level 106.52 collar, penutupan tertinggi sejak tanggal 27 Maret tahun 2012 yang lalu.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah berjangka pada perdagangan hari ini akan cenderung melanjutkan pergerakan menguatnya. Hari ini harga minyak mentah berjangka diperkirakan akan mengalami pergerakan pada kisaran 103 – 110 dollar per barel.

Monday, June 24, 2013

Harga Minyak Mentah WTI Ditutup Melonjak 1.6% Akibat Gangguan Pasokan dari Kanada

Pada perdagangan elektronik di Asia kemarin harga minyak mentah tampak mengalami pergerakan yang masih tertahan di sekitar level paling rendah dalam lebih dari dua minggu belakangan. Harga komoditas ini tertekan di tengah spekulasi bahwa pemulihan ekonomi China akan terancam oleh pengetatan likuiditas yang diberlakukan pihak berwenang di negara ini.

Harga minyak mentah hari ini mengalami pergerakan yang fluktuatif dan bergerak di kisaran positif dan negatif setelah minggu lalu membukukan penurunan mingguan sebesar 4.3 persen. Isu mengenai pengetatan likuiditas di China masih menjadi fokus utama saat ini.

Harga minyak mentah berjangka jenis WTI untuk kontrak pengiriman bulan Agustus mengalami penurunan sebesar 21 sen hari ini dan diperdagangkan pada posisi 93.48 dollar per barel. Pada akhir pekan lalu harga kontrak ini melemah sebesar 1.45 dollar atau 1.5 persen dan ditutup pada posisi 93.69 dollar yang merupakan harga penutupan paling rendah sejak tanggal 4 Juni lalu.

Sementara itu harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman bulan Agustus juga tampak mengalami pelemahan hari ini. Harga minyak mentah di bursa London tersebut melemah 40 sen dan ditransaksikan pada posisi 100.51 dollar per barel.

Namun pada akhir perdagangan di bursa Nymex dini hari tadi harga minyak mentah mengalami kenaikan untuk pertama kalinya dalam empat hari belakangan (25/06). Kenaikan anomali pada harga komoditas ini terjadi setelah adanya kabar penutupan tiga pipa minyak di Alberta, Kanda akibat kebanjiran.

Harga minyak mentah berjangka jenis WTI mengalami kenaikan sebesar 1.6 persen. Kenaikan harian tersebut merupakan yang paling besar sejak tanggal 3 Juni lalu. Situasi yang terjadi di Alberta tampaknya lebih buruk dari yang diproyeksi sebelumnya. Terbatasnya pasokan dari Kanada akan berdampak kepada naiknya permintaan minyak dari AS.

Harga minyak mentah berjangka jenis WTI untuk kontrak bulan Agustus mengalami peningkatan sebesar 1.49 dollar dan ditutup pada posisi 95.18 dollar per barel. Sebelumnya harga minyak mentah sempat mengalami penurunan sebesar 1.02 dollar dan mencapai level 92.67 dollar per barel yang merupakan posisi paling rendah sejak tanggal 4 Juni.

Penutupan pipa minyak di Kanada ini diperkirakan akan mengakibatkan turunnya pasokan minyak mentah di AS.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga komoditas ini masih akan terangkat akibat kekhawatiran mengenai pengetatan pasokan. Untuk sementara harga minyak mentah akan mengalami pergerakan pada kisaran 92.00 – 98.00 dollar.

Harga Minyak Mentah WTI dan Brent Tergerus Akibat Ancaman Ekonomi China

Perdagangan minyak mentah pada sore hari ini memang masih cenderung melemah. Minyak mentah tersebut kembali mengalami tekanan yang diakibatkan oleh adanya sebuah kekhawatiran pasar mengenai prospek ekonomi China dimana hari ini Goldman Sachs menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi China untuk tahun ini akan mengalami penurunan ke level 7,4%. Level tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi di awal tahun yang sebesar 7,8%.

Disaat yang bersamaan, pemerintah Amerika Serikat yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri, John Kerry, menyatakan akan menyiapkan pasukan untuk menyelamatkan kondisi keamanan di Suriah. Program tersebut sebelumnya telah dicanangkan oleh Presiden Barrack Obama yang menyatakan prihatin kepada berlarut-larutnya perang sipil di negara tersebut.

Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 48 sen menjadi 93,21 dollar per barel. Sedangkan minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 80 sen menjadi 100,11 dollar per barel.

Dan pada perdagangan elektronik di Asia hari ini harga minyak mentah tampak mengalami pergerakan yang masih tertahan di sekitar level paling rendah dalam lebih dari dua minggu belakangan (24/06). Harga komoditas ini tertekan di tengah spekulasi bahwa pemulihan ekonomi China akan terancam oleh pengetatan likuiditas yang diberlakukan pihak berwenang di negara ini.

Harga minyak mentah hari ini mengalami pergerakan yang fluktuatif dan bergerak di kisaran positif dan negatif setelah minggu lalu membukukan penurunan mingguan sebesar 4.3 persen. Isu mengenai pengetatan likuiditas di China masih menjadi fokus utama saat ini.

Harga minyak mentah berjangka jenis WTI untuk kontrak pengiriman bulan Agustus mengalami penurunan sebesar 21 sen hari ini dan diperdagangkan pada posisi 93.48 dollar per barel. Pada akhir pekan lalu harga kontrak ini melemah sebesar 1.45 dollar atau 1.5 persen dan ditutup pada posisi 93.69 dollar yang merupakan harga penutupan paling rendah sejak tanggal 4 Juni lalu.

Sementara itu harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman bulan Agustus juga tampak mengalami pelemahan hari ini. Harga minyak mentah di bursa London tersebut melemah 40 sen dan ditransaksikan pada posisi 100.51 dollar per barel.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah pada perdagangan hari ini akan cenderung mengalami penurunan terbatas. Harga minyak mentah berpotensi untuk kembali mengetes level support di 92 dollar. Sementara itu level resistance akan ditemui pada posisi 96 dollar.

Harga Minyak Melemah Lagi, GDP China Akan Merosot Ke Level 7,4%

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya jika beberapa hari yang lalu kondisi pelemahan masih terjadi pada harga minyak mentah setelah pergerakan nilai tukar dollar terhadap mata uang mayoritas masih mengalami kenaikan yang lumayan tinggi. Indeks dollar terhadap 6 mata uang mayoritas mengalami kenaikan sebesar 0,7% menjadi 82,518. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 6 Juni lalu. Seiring dengan kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu, investor kembali memburu dollar sebagai mata uang yang safe haven.

Dan beberapa hari yang lalu pemerintah China juga melaporkan bahwa tingkat konsumsi minyak harian pada sektor industry mengalami penurunan yang cukup tinggi menjadi sebesar 42600 barel per hari atau merupakan jumlah konsumsi harian terendah sejak bulan Oktober tahun lalu.

Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 2% menjadi 93,23 dollar per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 1,9% menjadi 100,21 dollar per barel.

Dan nampaknya hal tersebut masih berlanjut karena harga minyak mentah untuk perdagangan sore hari ini (24/6) kembali melanjutkan pelemahan. Komoditi energi tersebut kembali mengalami tekanan yang diakibatkan oleh adanya sebuah kekhawatiran pasar mengenai prospek ekonomi China dimana hari ini Goldman Sachs menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi China untuk tahun ini akan mengalami penurunan ke level 7,4%. Level tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi di awal tahun yang sebesar 7,8%.

Disaat yang bersamaan, pemerintah Amerika Serikat yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri, John Kerry, menyatakan akan menyiapkan pasukan untuk menyelamatkan kondisi keamanan di Suriah. Program tersebut sebelumnya telah dicanangkan oleh Presiden Barrack Obama yang menyatakan prihatin kepada berlarut-larutnya perang sipil di negara tersebut.

Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 48 sen menjadi 93,21 dollar per barel. Sedangkan minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 80 sen menjadi 100,11 dollar per barel.

Menurut analisa dari Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting, melemahnya pergerakan harga minyak saat ini akan berlanjut sampai malam nanti dimana data-data ekonomi yang akan dirilis hari ini cukup sedikit dan juga pengaruh pelemahan bursa saham global yang kembali bergerak bearish.

Kenaikan Indeks Dollar Kembali Tekan Harga Minyak Mentah

Sebelumnya pergerakan harga minyak mentah untuk perdagangan kemarin tercatat mengalami penurunan yang signifikan. Sama seperti kondisi sebelumnya, pergerakan minyak mentah cukup tertekan akibat pernyataan dari Fed yang memberikan kepastian bahwa nominal kebijakan stimulus ekonomi yang rencananya akan membutuhkan biaya sebesar 85 miliar dollar akan dikurangi jumlahnya.

Selain itu, sentimen negatif juga diperoleh dari laporan naiknya jumlah persediaan BBM di Amerika Serikat untuk pekan lalu yang naik sebesar 183 ribu barel dan turunnya data PMI manufaktur China untuk bulan Mei lalu sebesar 0,9 poin menjadi 48,3 poin. Meleset dari prediksi sebelumnya yang diperkirakan akan naik 0,2 poin.

Dan kemarin harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 2,24 dollar menjadi 96 dollar per barel. Sedangkan minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 2,29% menjadi 103,83 dollar per barel.

Sementara itu untuk hari ini kondisi pelemahan masih terjadi pada harga minyak mentah setelah pergerakan nilai tukar dollar terhadap mata uang mayoritas masih mengalami kenaikan yang lumayan tinggi. Indeks dollar terhadap 6 mata uang mayoritas mengalami kenaikan sebesar 0,7% menjadi 82,518. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 6 Juni lalu. Seiring dengan kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu, investor kembali memburu dollar sebagai mata uang yang safe haven.

Dan hari ini pemerintah China juga melaporkan bahwa tingkat konsumsi minyak harian pada sektor industry mengalami penurunan yang cukup tinggi menjadi sebesar 42600 barel per hari atau merupakan jumlah konsumsi harian terendah sejak bulan Oktober tahun lalu.

Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 2% menjadi 93,23 dollar per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 1,9% menjadi 100,21 dollar per barel.

Menurut analisa dari Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting, pergerakan harga minyak diprediksi akan masih berpeluang mengalami penurunan di awal pekan depan dengan level support sebesar 91,7 dollar per barel dan level resistant sebesar 95,83 dollar per barel.

Friday, June 21, 2013

Harga Minyak Berjangka Terpukul Akibat Sentimen Negatif Global

Pada akhir perdagangan di bursa Nymex dini hari tadi harga minyak mentah mengalami penurunan yang signifikan (22/06). Harga komoditas ini melempem di tengah kekhawatiran bahwa kekhawatiran pasar tentang rencana Federal Reserve mengurangi stimulusnya dan tanda-tanda perlambatan pertumbuhan di China. Penurunan harga komoditas minyak mentah ini terjadi untuk dua hari berturut-turut.  Pukulan global terhadap harga minyak ini tentu akan meningkatkan harga minyak itu sendiri.
Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) turun 1,45 dolar AS pada hari pertama perdagangan kontrak Agustus, ditutup pada 93,69 dolar AS per barel.
Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus melemah 1,24 dolar AS ditutup pada 100,91 dolar AS per barel di perdagangan London.
Kedua kontrak mengalami kerugian terbesar sejak November pada hari Kamis lalu. Penurunan masih terjadi karena pasar sedang dilanda tekanan jual parah sebagai reaksi terhadap pernyataan Ketua Federal Reserve Ben Bernanke yang pada Rabu malam lalu mengisyaratkan bahwa Fed dapat mulai mengurangi stimulus pelonggaran kuantitatif (QE) pada akhir tahun.
Dalam dua hari terakhir, WTI, yang telah melonjak tinggi sejak awal Juni, jatuh lebih dari 4,50 dolar AS.
Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah masih akan berada dalam pola melemah untuk sementara. Kondisi ekonomi global yang kembali bergejolak akibat kemungkinan dikuranginya stimulus membuat harga komoditas ini cenderung melemah.