Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya jika beberapa hari yang lalu kondisi pelemahan masih terjadi pada harga minyak mentah setelah pergerakan nilai tukar dollar terhadap mata uang mayoritas masih mengalami kenaikan yang lumayan tinggi. Indeks dollar terhadap 6 mata uang mayoritas mengalami kenaikan sebesar 0,7% menjadi 82,518. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 6 Juni lalu. Seiring dengan kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu, investor kembali memburu dollar sebagai mata uang yang safe haven.
Dan beberapa hari yang lalu pemerintah China juga melaporkan bahwa tingkat konsumsi minyak harian pada sektor industry mengalami penurunan yang cukup tinggi menjadi sebesar 42600 barel per hari atau merupakan jumlah konsumsi harian terendah sejak bulan Oktober tahun lalu.
Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 2% menjadi 93,23 dollar per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 1,9% menjadi 100,21 dollar per barel.
Dan nampaknya hal tersebut masih berlanjut karena harga minyak mentah untuk perdagangan sore hari ini (24/6) kembali melanjutkan pelemahan. Komoditi energi tersebut kembali mengalami tekanan yang diakibatkan oleh adanya sebuah kekhawatiran pasar mengenai prospek ekonomi China dimana hari ini Goldman Sachs menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi China untuk tahun ini akan mengalami penurunan ke level 7,4%. Level tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi di awal tahun yang sebesar 7,8%.
Disaat yang bersamaan, pemerintah Amerika Serikat yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri, John Kerry, menyatakan akan menyiapkan pasukan untuk menyelamatkan kondisi keamanan di Suriah. Program tersebut sebelumnya telah dicanangkan oleh Presiden Barrack Obama yang menyatakan prihatin kepada berlarut-larutnya perang sipil di negara tersebut.
Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 48 sen menjadi 93,21 dollar per barel. Sedangkan minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 80 sen menjadi 100,11 dollar per barel.
Menurut analisa dari Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting, melemahnya pergerakan harga minyak saat ini akan berlanjut sampai malam nanti dimana data-data ekonomi yang akan dirilis hari ini cukup sedikit dan juga pengaruh pelemahan bursa saham global yang kembali bergerak bearish.
Dan beberapa hari yang lalu pemerintah China juga melaporkan bahwa tingkat konsumsi minyak harian pada sektor industry mengalami penurunan yang cukup tinggi menjadi sebesar 42600 barel per hari atau merupakan jumlah konsumsi harian terendah sejak bulan Oktober tahun lalu.
Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 2% menjadi 93,23 dollar per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 1,9% menjadi 100,21 dollar per barel.
Dan nampaknya hal tersebut masih berlanjut karena harga minyak mentah untuk perdagangan sore hari ini (24/6) kembali melanjutkan pelemahan. Komoditi energi tersebut kembali mengalami tekanan yang diakibatkan oleh adanya sebuah kekhawatiran pasar mengenai prospek ekonomi China dimana hari ini Goldman Sachs menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi China untuk tahun ini akan mengalami penurunan ke level 7,4%. Level tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi di awal tahun yang sebesar 7,8%.
Disaat yang bersamaan, pemerintah Amerika Serikat yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri, John Kerry, menyatakan akan menyiapkan pasukan untuk menyelamatkan kondisi keamanan di Suriah. Program tersebut sebelumnya telah dicanangkan oleh Presiden Barrack Obama yang menyatakan prihatin kepada berlarut-larutnya perang sipil di negara tersebut.
Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 48 sen menjadi 93,21 dollar per barel. Sedangkan minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 80 sen menjadi 100,11 dollar per barel.
Menurut analisa dari Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting, melemahnya pergerakan harga minyak saat ini akan berlanjut sampai malam nanti dimana data-data ekonomi yang akan dirilis hari ini cukup sedikit dan juga pengaruh pelemahan bursa saham global yang kembali bergerak bearish.
No comments:
Post a Comment