Monday, June 24, 2013

Kenaikan Indeks Dollar Kembali Tekan Harga Minyak Mentah

Sebelumnya pergerakan harga minyak mentah untuk perdagangan kemarin tercatat mengalami penurunan yang signifikan. Sama seperti kondisi sebelumnya, pergerakan minyak mentah cukup tertekan akibat pernyataan dari Fed yang memberikan kepastian bahwa nominal kebijakan stimulus ekonomi yang rencananya akan membutuhkan biaya sebesar 85 miliar dollar akan dikurangi jumlahnya.

Selain itu, sentimen negatif juga diperoleh dari laporan naiknya jumlah persediaan BBM di Amerika Serikat untuk pekan lalu yang naik sebesar 183 ribu barel dan turunnya data PMI manufaktur China untuk bulan Mei lalu sebesar 0,9 poin menjadi 48,3 poin. Meleset dari prediksi sebelumnya yang diperkirakan akan naik 0,2 poin.

Dan kemarin harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 2,24 dollar menjadi 96 dollar per barel. Sedangkan minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 2,29% menjadi 103,83 dollar per barel.

Sementara itu untuk hari ini kondisi pelemahan masih terjadi pada harga minyak mentah setelah pergerakan nilai tukar dollar terhadap mata uang mayoritas masih mengalami kenaikan yang lumayan tinggi. Indeks dollar terhadap 6 mata uang mayoritas mengalami kenaikan sebesar 0,7% menjadi 82,518. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 6 Juni lalu. Seiring dengan kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu, investor kembali memburu dollar sebagai mata uang yang safe haven.

Dan hari ini pemerintah China juga melaporkan bahwa tingkat konsumsi minyak harian pada sektor industry mengalami penurunan yang cukup tinggi menjadi sebesar 42600 barel per hari atau merupakan jumlah konsumsi harian terendah sejak bulan Oktober tahun lalu.

Harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan sebesar 2% menjadi 93,23 dollar per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 1,9% menjadi 100,21 dollar per barel.

Menurut analisa dari Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting, pergerakan harga minyak diprediksi akan masih berpeluang mengalami penurunan di awal pekan depan dengan level support sebesar 91,7 dollar per barel dan level resistant sebesar 95,83 dollar per barel.

No comments:

Post a Comment